Siang yang Terlewatkan

5 comments
Bismillaahirrahmaanirrahiim

Bahagia itu sederhana. Sesederhana menu makan siang yang tengah saya siapkan. Sesederhana jawaban iya dari Papanya Mahdi, saat saya tanyakan, "Nanti makan siang di rumah, Pa?"

Yang jelas, makan siang hari ini terasa dua kali lebih enak, eh tidak, tiga-bahkan-empat kali lebih enak! Iya, soalnya menu biasa menjadi luar biasa, bermodal nasi dipadu tumis kangkung pedas dan ikan mairo goreng. Nyam-nyam-nyam, Alhamdulillah! Makan bersama keluarga memang selalu berhasil menaikkan parameter kebahagiaan. Setuju kan?

Seusai makan, bayi mahdi yang mengantuk mulai merajuk manja. Wah wah, sabar ya Mahdi, mama mau bantu papa siap-siap balik ke kantor dulu, bisa?

Huwaaa!
Mahdi menggila.

Papanya Mahdi menggeleng, mengisyaratkan agar saya tidak perlu membantunya beberes dan segera menyusui Mahdi saja. Kebiasaan tidur siang yang susah terlewatkan, katanya.


Detik berikutnya, mata Mahdi sudah terpejam namun mulutnya masih refleks menyusu. Saya mengalihkan pandangan ke Papanya Mahdi yang berdiri di depan cermin, kelihatannya hampir selesai bersiap.

Klik.

Saya mengerjapkan mata lalu menoleh ke kiri dan ke kanan. Bingung. Tidak saya dapati sosok yang saya cari. Papanya Mahdi kemana ya?

Saya bangun perlahan-lahan, mencoba agar Mahdi -yang berada di samping saya- tidak merasakan goncangan kasur. Yup, dia masih terlelap dalam mimpinya.

Saya berjalan ke luar kamar, mendapati pintu ruang tamu dalam posisi terkunci. Saya mengintip dari balik jendela. Suasana di luar terlihat dingin, motor biru milik Papanya Mahdi tidak terparkir di sana. Bagaimana ini? Hati saya semakin resah menerka-nerka apa yang terjadi.

Saya mengambil handphone, lalu mencoba menghubungi Papanya Mahdi. Tut tut tut. Panggilan saya tidak terjawab. Saya tambah bingung.

Kringgg!
Papanya Mahdi menelpon!

"Papaaa- papa dimana?"
"Di kantor. Ada apa, Ma?"

Loh. Nada suara Papanya Mahdi kok tenang begitu ya? Terus sejak kapan ada di kantor? Kok bisa ya, saya tidak menyadari kejadian ini?

"Mama... Mamaaa- halooo?"
"Pa..." saya berusaha memilah kata, "Kok bisa papa sudah ada di kantor?"

"Papa minta maaf, Ma. Tadi papa langsung pergi."
"Kok?"

"Mama dan Mahdi tidur, Papa nggak mau mengganggu."
"Hah?"

"Mama baik-baik saja? Mahdi masih tidur?"
"Eh... i-iyaa, Pa. Alhamdulillah. He em, Mahdi masih tidur."

"Alhamdulillah. Kalau begitu, sudah dulu ya, Ma. Assalamu'alaikum."
Tut tut tut.

Papaaa! Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh. Ya Allah Pa, kok nggak bangunin Mama. Ya Allah, pantas saja saya tidak merasakan kejadiannya. Siang yang terlewatkan. Saya ketiduran! Dan kerennya, Papanya Mahdi menganggapnya sebagai hal yang mengganggu kalau membangunkan kami.

Masya Allah.
Papanya Mahdiii, tiba-tiba saja mama kangen banget.



Makassar, Mei 2015 Miladiyah - Sya'ban 1436 Hijriyah
Sorry nge-spam di bulan Ramadhan (-^.^-)
Happy Fasting ya Guys!

Read More

Mama akan Menunggu di sini sama Mahdi

20 comments
Bismillaahirrahmaanirrahiim

"Tidak apa-apa, mama akan menunggu di sini sama Mahdi," kata saya seraya melihat bayi Mahdi yang tertidur pulas di carseat-nya.

Papanya Mahdi mengangguk lalu bergegas turun dari mobil. Saya terus memandanginya hingga punggungnya tertutupi daun pintu, tertelan cafe Bangi Kopitiam. Katanya, ada rapat penting menyambut suatu event, jadi para karyawan ngebela-belain gathering walaupun weekend.

Padahal weekend itu jadwal kencan kami.

Alhasil, daripada bolak-balik, saya dan Mahdi ngikut deh sekalian. Tapi nggak ikut rapat loh, hehehe peace! Maksudnya kan biar praktis, jadi kalau rapatnya sudah selesai, kami bisa langsung nge-date. Hohoho ( •ᴗ•)❤

baby mahdi on carseat
Bayi Mahdi di dalam carseat di kursi belakang mobil

Tiba-tiba terdengar suara grasak-grusuk dari belakang, Mahdi berusaha bangkit dari carseat-nya. Ya Allah, sudah bangun rupanya. Saya pun membuka sabuk carseat dan membebaskan Mahdi. Tidak lebih sedetik, mulailah curious baby itu beraksi. Merambat ke sana ke mari, mencoba berdiri sendiri, megang ini megang itu, tidak ketinggalan gigitan-gigitannya yang tanpa gigi, Subhanallah! Harus bener-bener fokus ngejagainnya.

Tok! Tok!

Eh? Papanya Mahdi datang.

"Sudah?" tanya saya.

"Belum. Masih akan lanjut lagi setelah Dhuhur." jawab Papanya Mahdi sambil mencabut rem tangan dan memasukkan gigi. Bibirnya tersenyum lalu berkata, "Tapi tadi bos nanya siapa yang punya kepentingan lain, papa angkat tangan, terus diizinkan pulang deh."

Mobil perlahan keluar dari parkiran, dan melaju ke jalan raya.

"Kepentingan lain? Papa bilang apa?"
"Bilang ada istri dan anak saya menunggu di mobil, Bos."

"Haaa!"
Jantung saya nyaris melompat mendengarnya. Sedang yang mengatakannya tetap kalem dan santai. Aish, kok bisa sih? Itu kan pernyataan kebenaran yang rada-rada tidak biasa.

"Tapi... tugas Papa sudah beres kan? Nanti event-nya diadakan dimana?"
Papanya Mahdi terdiam, "Hmm... dimana ya? Papa tidak tahu."

"Haaa!"
Saya rasa jantung ini sudah benar-benar melompat sekarang.

"Habisnya, papa susah fokus, pikiran papa selalu ke mama dan mahdi."

Ha-aaa...?

Alis saya mengkerut. Ada beberapa kalimat yang tidak tercerna baik di otak saya. Tapi saya bisa merasakan satu hal, kehangatan mulai merayap lambat ke lubuk hati. Tahu-tahu, hati ini dipenuhi bunga-bunga yang bermekaran. Wow, sesuatu.

Masya Allah, papanya Mahdi! Mama jatuh cinta.



Makassar, 9 Mei 2015 Miladiyah - 20 Rajab 1436 Hijriyah
kata-kata ada untuk mengungkapkan perasaan



Read More

Keluarga Cahaya Emas

37 comments
Bismillaahirrahmaanirrahiim

Keluarga Cahaya Emas

Hi guys! Entah sadar atau tidak, blog ini kini berganti nama menjadi, Keluarga Cahaya Emas. Bukannya tanpa maksud apa-apa sih. Menurut saya, nama itu lebih sesuai dengan status dan kondisi yang ada. Secara, saya sudah bukan gadis manis berstatus single yang mengelu-elukan diri sebagai Putri Cahaya. Uhukk! Haduh, sampai keselek.

Kini...
Saya seorang istri.
Saya sudah memiliki satu putra.
Dan itu artinya, saya punya keluarga sendiri. Alhamdulillah.

Jadi rasanya lebih kedengaran klop kalau nama blognya juga ada kata keluarganya. Iya nggak sih? Keluarga Cahaya Emas. Cakep ya, tampak dewasa. Huehehe. Selaras dengan itu, signature blog juga diubah menjadi Mama Maya alias Mamanya Mahdi alias Ummu Mahdi.

Perubahan yang lain?
Saya nggak menggunakan kata aku lagi. Aku melambangkan ego tertinggi dari seorang Putri Cahaya. Aku itu tidak tersentuh dan super belagu pakai banget. Sok pokoknya. Huff, sekarang selain karena tembok keakuan itu sudah diruntuhkan oleh Papanya Mahdi, saya juga tidak merasa perlu lagi untuk terus mengembangkan kata aku. Saya, saya,  saya pun sudah cukup. Lebih merakyat, tidakkah begitu?

Yah, begitu saja yang ingin saya katakan.
Sampai jumpa lagi! Salam KeCE ^^

Read More
Older Posts Home
 

Keluarga Cahaya Emas © 2015 Design by Ipietoon